Jumat, 04 Januari 2013

Saya Di Anggap Pantas Jadi Presiden Sejak 1982


MERDEKA.COM, Raja Dangdut Rhoma Irama akhirnya ikut meramaikan bursa calon presiden buat pemilihan umum 2014. Dia bakal ikut bersaing dengan sejumlah nama kerap bertengger di papan atas dalam pelbagai jajak pendapat. Sebut saja Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahmud M.D., dan bekas Presiden Megawati Soekarnoputeri.

Namun dia menolak motifnya disamakan dengan nama-nama itu. "kalau calon presiden umumnya mengajukan diri. Saya diajukan, didesak oleh ulama, habaib, dan perwakilan umat," katanya saat ditemui merdeka.com kemarin sore di kediamannya, Jalan Pondok Jaya VI nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Alasannya, dia dianggap aikon Islam dan bisa membawa aspirasi Islam.

Dia mengaku sduah sejak 1982 dilirik buat menjadi calon presiden. tawaran-tawaran itu dia tolak dengan alasan belum ada panggilan hati.

Wawancara berlangsung sekitar satu jam di ruang tamu rumahnya. Di sana tergantung dua bingkai besar: satu berisi surat Al-Ashr (Demi Masa) dan satu lagi lukisan Satria Bergitar karya Badri pada 2007. Dalam gambar itu, Rhoma duduk di atas kuda dengan gitar terselempang di punggung.

Dia sama sekali tidak mengunyah makanan atau menghirup minuman selama perbincangan. Tangan kananya sibuk memilin butir tasbih berwarna gelap seraya berzikir. Pada kesempatan itu, dia mengenakan kemeja hitam lengan pendek (dua kancing atas dibiarkan terbuka) dipadu celana panjang dan sandal kulit warna serupa. Wawancara molor hampir sejam dari waktu ditentukan.

Berikut penuturannya kepada Faisal Assegaf dan juru foto Imam Buhori:

Anda serius untuk maju sebagai calon presiden?

Saya bukan seperti calon presiden lain, kalau calon presiden umumnya mengajukan diri. Saya diajukan, didesak oleh ulama, habaib, dan perwakilan umat karena melihat situasi dan kondisi bangsa sudah semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, musyawarah, dan keadilan sosial di mana itu seharusnya menjadi landasan filosofi bangsa (Pancasila). Ini menimbulkan keresahan di kalangan ulama, umat, dan anak bangsa. Maka mereka mendorong saya untuk tampil karena saya dianggap sebagai aikon Islam, bisa membawa aspirasi umat Islam.

Siapa mendorong Anda?

Awalnya oleh Forum Ulama dan Habaib Betawi kemudian didukung oleh Persatuan Ulama dan Habaib Indonesia diketuai oleh Habib Syehan Syihab.

Kapan mereka meminta Anda untuk maju?

Kira-kira setelah pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Apakah kemenangan Jokowi yang fenomenal menjadi pertimbangan?

Mungkin saja. Tapi memang isu Rhoma sebagai calon presiden sebetulnya sudah sejak 1982 ketika masih ada tiga partai: PPP (Partai Persatuan Pembangunan,), PDI (Partai Demokrasi Indonesia), dan Golkar (Golongan Karya). Rhoma adalah satu-satunya seniman berseberangan dengan pemerintah, yaitu Golkar. Sehingga saat itu popularitas Rhoma Irama mengalahkan ketua umum ketiga partai ini. Sampai-sampai Ketua Umum PPP Idham Khalid berpidato di TVRI. Beliau mengatakan seandainya demorasi Indonesia seperti di Amerika, maka presiden Indonesia tentunya Rhoma Irama karena nama Rhoma saat itu paling dominan di antara tokoh-tokoh politik.

Kenapa Anda menerima dorongan para ulama itu?

Kebetulan memang ada keterpanggilan dan keresahan sama. Itulah yang kita lihat. Semakin hari kian mengerikan hidup berbangsa ini. Indikasinya tidak ada satu hari tanpa caci maki antar komponen bangsa, tidak ada satu hari tanpa konflik horisontal, antar suku, agama. Sebelum reformasi ini tidak pernah terjadi. Rakyat, intelektual, dan bahkan penegak hukum bisa melakukan anarkisme. Kita selama ini dicekam oleh ketidakpastian, kecemasan dalam berbagai aspek kehidupan.

Apa akar dari semua persoalan itu?

Akar permasalahannya adalah demokrasi kebablasan, tidak bertahap. Secara dramatis kita mengubah sistem bangsa ini, dari otoritarian menjadi liberal. Sehingga terjadi gejolak sosial di mana-mana. Kita harus kembali mengajak bangsa ini kembali sesegera mungkin dan simultan adalah memperbaiki moralitas dan ekonomi. Seperti kata nabi, kefakiran itu bisa membuat orang menjadi kufur. Orang bisa menjadi jahat kalau perut lapar. Paling utama harus dibenahi adalah ekonomi, pembangunan moral, persatuan dan kesatuan. Kita harus kembali pada nilai-nilai Pancasila. Sekarang ini kita kehilangan identitas. Dari bangsa ramah menjadi pemarah, bangsa pemaaaf menjadi pendendam.
Apa Anda akan menerapkan syariat Islam buat memperbaiki semua itu?

Tidak. Pancasila itu sudah sangat Islami. Dengan mengamalkan Pancasila, kita sudah mengamalkan Islam. Karena memang bangsa ini direbut dari penjajah oleh pejuang ulama, ulama pejuang. NKRI memang harus komitmen kita bersama.

Belajar dari pengalaman mendiang Kiai Zainuddin M.Z. popularitasnya menurun setelah masuk politik. Apakah Anda tidak khawatir hal serupa terjadi kepada Anda?

Saya berbeda dengan beliau. Beliau memang bikin partai, dia punya tujuan politik. Kalau saya enggak. Saya enggak bikin partai, enggak mencalonkan diri, tapi didorong untuk tampil.

Bukankah lompatan itu terlalu jauh, kenapa Anda tidak mencoba ikut pemilihan kepala daerah lebih dulu?

Saya rasa enggak juga karena tahun 2004 juga sudah diminta untuk menjadi calon presiden.

Oleh siapa?

Ada sekelompok politikus dan ulama bikin partai baru dan meminta saya menjadi ketua umum. Mereka bilang ingin saya menjadi presiden karena saya punya popularitas dan elektabilitas. Itu sayarat utama untuk menang dalam pemilihan presiden dengan sistem pemilihan langsung. Saya juga diyakini memiliki kapabilitas, visi, dan misi sebagai pemimpin dilihat dari lagu-lagu saya. Sebagai contoh, sebelum dunia mengumandangkan lagu hak asai, saya telah memuat lagu hak asasi. Saya dianggap telah membangun moral dan karakter bangsa ini melalui lirik-lirik lagu religius. Saya tolak karena jabatan itu sangat berat.

Yang kedua, pada 2009, saya diminta menjadi calon wakil presiden. Ada calon presiden malamar saya untuk menjadi calon wakil beliau. Tapi 2012 ini ada keterpanggilan. Dulu semua saya tolak karena belum ada keterpanggilan.

Jadi menurut Anda, pemimpin Indonesia harus bertangan besi seperti Soeharto?

Kita harus punya konsensus bersama. Pemerintah sekarang enggak berdaya karena dibonsai. Hak-hak prerogatif tidak ada. Sekarang ini pemerintah tidak punya kuasa, bagaimana mungkin pemerintah seperti ini bisa membenahi bangsa. Tiap kebijakan dicaci maki.

Jadi Undang-undang Antisubversif perlu dihidupkan lagi?

Kalau presiden dihina tanpa sanksi hukum, siapa lagi bisa dihormati. Kalau ini sudah terjadi, maka muncul sikap-sikap politik tidak manusiawi dan mengacu kepada ketuhanan. Nilai-nilai positif dari Orde Lama dan Orde Baru harus dipertahankan. Dalam ekonomi, duku kita ada GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara).

Biodata:

Nama Lahir:
Raden Irama

Nama Beken:
Rhoma Irama

Tempat dan Tanggal Lahir:
Tasikmalaya, 11 Desember 1946

Pendidikan:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus, Jakarta (tidak lulus)

Karier:
Band Gayhand, Tornado, dan varia Irama Melody, 1960-an
Orkes Melayu Purnama, 1968
Orkes Melayu Chandraleka, 1968
Orkes Melayu Soneta, 1970
Sumber: Merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen nya gan di tunggu :v